Senin, 25 Agustus 2008

LA LIGHTS INDIE MOVIE

Isu ini sudah agak lama juga menjadi moment yang ditunggu-tunggu. Tahun lalu untuk pertama kalinya. Kegiatan ini dilaksanakan di empat kota yaitu Jakarta, Surabaya, Bandung dan Jojyakarta, Lebih dari 300 orang mengantri untuk menjadi peserta di tiap kota. Mereka tidak terbatas pada kalangan komunitas independen, namun juga dari kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum (Kompas, 17 Desember 2007). Inilah yang selalu menggembirakan bagi dunia perfilman dunia, suntikan anak-anak muda dengan ide segarnya. Dari dulu hingga sekarang, anak-anak muda independen belum terikat denagan pragmatisasi modal dan kekangan pasar.
Muda dan independen, dua terminology kata ini menimbulkan asosiasi tersendiri bagi Garin Nugroho. Sutradara Senior kenamaan saat ini. Muda lekat dengan semnagat, bakat dan kreatif. Maka kombinasi indie di balakangnya memberikan makna yang sangat berarti: kebebasan semangat, pengembangan bakat nan kreatif. Ketika dulu, tahun 1960-an Hollywood didominasi oleh film-film epic dan musical yang mengenajr untung, Dennis Hopper dan Peter Fonda mungki terlihat nekat ketika mengerjakan Easy Rider (1969) secara independent. Di tengah dominasi The Big Five di Hollywood (MGM, Paramount Pictures, RKO, Warner Bros, and Twentieth Century Fox), dua orang membuktikan kemampuan mereka membuat film tanpa dukungan dan kekangan major.
LA LIGHTS Indie Movie adalah program tahunan berupa workshop film yang terselenggarakan atas kerjasama SET Film Workshop dan LA Lights. Program ini dirasa perlu karena terbukti bahwa komunitas film independen yang ada di setiap daerah adalah pondasi dari berkembangannya film nasional. Bermunculannya komunitas film independen di banyak kota tentu saja menggembirakan dan tentu saja ini menjadi kekuatan tersendiri bagi indie filmmaker untuk terus berkarya. Menjaga eksistensi adalah pe-er yang harus dikerjakan bersama-sama. Banyak elemen yang tampil disini kemudian, komunitas-komunitas berkarya, jejaring komunitas indie menjadi kunci penyambung ide dan solusi distribusi, festival-festival local dan nasional tahunan menjadi meeting point, label distribusi independent mulai muncul dan LA Lights Indie Movie menjadi salah satu bagian penting dalam hal ini.
Short Story Movie sebagai sebuah karya independent tentu saja bebas memakai bahasa visual apapun untuk menyampaikan pesannya, mendefinisikan kembali ide dalam paparan alur dan membangun storytelling penceritaan yang liris ataupun shocking dan sapai kepada penonton adalah kebebasan yang patut dirayakan, tentunya kebebasan yang dirayakan dengan semangat kreatif.
LA Lights Indie Movie workshop kali ini menekankan aspek pendekatan kreatif penciptaan (creative treatment) aspek visual aesthetic sebagai dua hal penting dalam proses penciptaan film pendek. Bagaimana menciptakan sekotak dunia yang indah, membuat subjek-subjek kehidupan yang unik, memberikan roh, menemukan bahasa dialog dan lalu menjadi dalang dalam peran yang kau inginkan. Proses sebuah film pendek dari hulu sampai hilir, dari menemukan ide hingga sebuah film sampai kepada penonton akan kita temukan di LA Lights Indie Movie Creative Short Film Workshop. Dalam workshop selama satu hari penuh ini mereka telah mendapatkan materi tentang Directing dan popular scriptwriting on short story, Low Budget Film (managemen aspec and technical aspect), About short story (distribusi, networking, history). Selanjutnya 50 peserta dengan cerita terpilih berhak untuk maju di babak Meet the Producers. Di babak inilah tahun lalu mereka memperjuangkan ceritanya dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Hanung Bramantyo, John De Rantau, Enison Sinaro, Arturo GP, dan Wulan Guritno. Proses penciptaan sebuah karya indie tentunya tak lepas dari hambatan-hambatan. Inti menjadi Indies adalah menembus hambatan-hambatan itu. Inilah keunggulan Indie filmmaker, keunggulan yang perlu dikenali dan dimaksimalkan.
Bagaimanakah cara agar film bisa ditonton secara luas? Sudah cukupkah media distribusi yang selama ini sudah ada? Apakah cukup hanya dengan festival film? Bagaimana dengan distribusi film independen di Negara lain?
Dari semua pertanyaan itulah tema network & distribusi menjadi penting untuk penyelenggaraan tahun ini dengan harapan agar para pembuat film-film independen Indonesia tidak hanya mampu membuat film alternative, tapi juga mampu menciptakan media distribusi alternative untuk film-film mereka sendiri. Tahun ini mereka akan berteriak Ini film Gue! Mana film Loe!?
Semoga film independen Indonesia semakin berumur panjang!

Tidak ada komentar: