Kamis, 26 Juni 2008

Pengenan Flores sebagai cagar budaya

Desktop Video sebagai media presentasi dalam penyajiannya, menghendaki adanya ikatan dengan audiencesnya. Tampilannya yang menarik dan semarak penuh taburan warna, lebih atraktif. Mampu mengakrabkan objek yang sangat jauh dengan audience di waktu yang bersamaan. Desktop Video yang saat ini dirasakan banyak manfaatnya dalam kehidupan masyarakat, memberikan kemudahan-kemudahan sebagai media presentasi yang terintegrasi dan media interaktif yang praktis. Keunggulannya dalam berinteraksi pada masyarakat telah membuka peluang besar kepada kita untuk meningkatkan kualitas hidup, dan memfasilitasi partisipasi dari masyarakat kecil hingga interaksi yang mendunia.
Penyajian presentasi secara full-motion, menjadikan desktop video dapat bekerja dengan mudah dan menghemat waktu, memberi keuntungan atau kemudahan dalam penyampaian informasi. Kelemahan desktop video yang hanya dilihat dalam hitungan menit dilengkapi oleh tampilan booklet tercetak melengkapi informasi penting dalam desktop video. Budaya menonton adalah salah satu ciri khas budaya Indonesia tanpa melupakan informasi tercetak yang menyokong gerakan menuntaskan buta huruf di Indonesia, media tercetak berupa buku dinalai abadi sebagai informasi tertulis yang dapat disimpan hingga dua generasi selanjutnya.

Permasalahan yang dihadapi adalah menghimpun cagar wisata ditampilkan dalam media live dan mengidentifikasikan lokasi-lokasi cagar wisatanya dalam informasi utuh dan menarik sebagai promosi daerah. Merujuk dari gejala disintegrasi dan kebijakan otonomi daerah di Indonesia, permasalahan sebagian besar orang adalah mengenal hanya yang ingin ia ketahui, melakukan eksplorasi sekitar tempat yang ingin ia kenali. Dan sebuah keniscayaan bahwa orang hanya mengenal daerah yang dekat dengan pusat pemerintahan dan sekitar tempat ia tinggal. Padahal Indonesia terbentang dari Sabang sampai Merauke, dan mengetahui cagar budaya yang terbentang didalamya merupakan sebuah investasi kecintaan atas keutuhan Negara Indonesia.
Salah satu sumber dari sejumlah tulisan mengenai pariwisata budaya menyebutkan bahwa pada akhir tahun 1970-an, ketika para pakar pemasaran dan peneliti kepariwisataan mendapati adanya orang atau sekelompok orang yang melakukan perjalanan semata-mata hanya untuk pemahaman mendalam terhadap objek atau peristiwa budaya di suatu tempat tertentu, barulah dikenali adanya peristiwa budaya yang secara jelas dapat dikategorikan sebagai salah satu produk kepariwisataan (Tighe dama McKercher dkk, 2002).

Uraian tersebut memberikan kejelasan bagi kita bahwa wisata budaya sebenarnya bukanlah merupakan hal yang baru sama sekali walaupun pada kenyataannya wisata semacam ini tidak atau belum selalu dinyatakan secara eksplisit, karena pada umumnya merupakan bagian dari wisata alam, sebagai bentuk wisata umum yang paling banyak ditemui. Wisata semacam ini juga belum ditelaah secara mendalam baik oleh kalangan kepariwisataan maupun kebudayaan di Indonesia, padahal sudah diketahui bersama bahwa hakekat pariwisata Indonesia bertumpu pada keunikan dan kekhasan budaya dan alam, serta hubungan antar manusia.
Untuk itu, menampilkan kekhasan kota Flores yang terdapat cagar wisata berupa terumbu karang terindah di dunia, menyimpan lebih dari seribu ikan, 260 jenis terumbu karang dan 70 jenis bunga karang. Pemandangan alamnya yang indah dan menawan serupakan sebuah asset bangsa yang patut dikenal dan dipelihara kelestariannya sehingga harus dilakukan pemetaan dan diidentifikasi secukupnya.

Seiring dengan semakin derasnya keinginan akan otonomi daerah oleh berbagai daerah di Indonesia, maka kita berkeyakinan bahwa kue pembangunan tentunya akan semakin rata dibagikan sesuai dengan kemampuan daerah tersebut. Artinya setiap daerah berusaha menampilkan berbagai kelebihannya untuk mendatangkan dana masuk bagi pembangunan daerahnya, salah satunya adalah di bidang pengenalan cagar wisata.
Flores, dalam bahasa Portugis yang berarti “bunga”, ke beradaannya di Propinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Flores dengan luas wilayah 14.300 km2 terdapat 4 kepulauan besar didalamnya yaitu pulau Flores, pulau Timor, pulau Sumba dan pulau Alor. Flores terletak di timur pulau Sumbawa dan Komodo, dan di barat Pulau Lomblen dan dan Kepulauan Alor. Di tenggaranya adalah pulau Timor. Di selatan, disebrang selat Sumba, adalah pulau Sumba dan di utar, di sebrang Laut Flores adalah Sulawesi. Diantara 4 pulau besar itu, terdapat bentangan terumbu karang terindah di dunia, menyimpan lebih dari seribu jenis ikan, 260 jenis karang dan 70 jenis bunga karang. Pantainya yang indah mempunyai air yang sangat jernih sampai kedalaman 20 meter dasar lautnya masih terlihat dan mempunyai terumbu karang yang masih alami dapat dijadikan taman laut. Selain itu pantai ini mempunyai ombak yang cukup tinggi dapat digunakan sebagai objek wisata selancar.

Flores memiliki beberapa gunung berapi aktif dan tidur, termasuk Egon, Ilimunda, Lereboleng, dan Lewotobi. Pada September 2003, di gua Liang Bua di Flores Barat, Paleoantropologis menemukan tengkorak spesies hominid yang sebelumnya tak diketahui. Temuan ini dinamakan “manusia Flores” (Homo floresiensis, dijuluki hobbit). Penemuan ini dimuat dalam majalah Nature edisi 28 Oktober 2004.
Hakekat pariwisata Indonesia bertumpu pada keunikan dan kekhasan budaya dan alam, serta hubungan antar manusia.

Suku Bangsa Flores adalah merupakan percampuran etnis antara Melayu, Melanesia, dan Portugis. Dikarenakan lokasi yang berdekatan dengan Timor, yang pernah menjadi Koloni Portugis, maka interaksi dengan kebudayaan Portugis pernah terjadi dalam kebudayaan Flores, baik melalui Genetik, Agama, dan Budaya.

Sedangkan ketika kita membandingan dengan pola branded office membutuhkan dana Rp 4-5 miliar/tahun, yang sebagian besar untuk mendukung bahan-bahan promosi serta pendistribusiannya yang dilakukan pihak agency.

Sebagai contoh, "Saat ini untuk pusat promosi pariwisata di Jerman dan India belum menjadi full-branded office, mengingat keterbatasan dana. Kita baru bisa menganggarkan dana Rp 50 juta per tahun untuk masing-masing agency di sana. Ini sebagai upaya emerjensi. Diharapkan bila anggarannya sudah mencukupi akan ditingkatkan menjadi branded office," katanya.

Dikatakan, kantor promosi pariwisata di India dan Jerman saat ini hanya melakukan kegiatan terbatas pada basic information di antaranya menyiapkan media online (website) serta siap menyebarkan informasi.

"Kegiatan agency kita di India masih sebatas basic information. Pihak agency yang kita tunjuk di sana siap memberikan informasi mengenai Indonesia melalui website yang mereka siapkan. Mereka siap memberikan jawaban bila ada yang membutuhkan informasi lewat website paling lama dalam 48 jam."

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Betapa saya bangga dengan keragaman anugrah alam Indonesia tempat saya berasal. Keragaman budaya dan keindahan kondisi geografisnya istimewa. Kesadaran atas potensi wilayah daratan dan wilayah lautan perlu ditumbuhkan pada generasi saat ini. Kurangnya wawasan nusantara menyebabkan masyarakat Indonesia pernah terpecah-belah. Pembuatan film sebagai pengemasan sebuah paket informasi dianggap mampu menginspirasi kehidupan dan relevan dalam menyampaikan nilai-nilai keindahan Indonesia yang universal.

Tidak ada komentar: